Pengalaman Toleransi Antarwarga di
Lingkungan Palapa 7
Diah Resti Astuti E07
A.
Pendahuluan
Saya tinggal di lingkungan Palapa
7, sebuah kawasan permukiman yang dihuni oleh warga dengan latar belakang agama
dan kebiasaan yang beragam. Di lingkungan ini terdapat warga yang beragama
Islam, Kristen, dan Katolik. Keberagaman tersebut membuat Palapa 7 menjadi
tempat yang menarik untuk diamati, terutama dalam hal praktik toleransi
antarwarga.
Menurut pemahaman saya, toleransi
adalah sikap saling menghargai perbedaan, baik perbedaan agama, kebiasaan,
maupun pandangan hidup, tanpa memaksakan kehendak kepada orang lain. Toleransi
bukan berarti mengubah keyakinan masing-masing, tetapi bagaimana kita bisa
hidup berdampingan dengan damai dan saling menghormati. Melalui pengamatan
langsung di lingkungan Palapa 7, saya mencoba merefleksikan bagaimana toleransi
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
B.
Deskripsi
Realita
Dalam kehidupan sehari-hari di
Palapa 7, praktik toleransi dapat dilihat dari berbagai kegiatan warga. Salah
satu contoh yang paling sering saya amati adalah saat perayaan hari besar
keagamaan. Ketika bulan Ramadan tiba, warga yang tidak berpuasa menunjukkan
sikap saling menghormati dengan tidak makan atau minum secara terang-terangan
di lingkungan umum. Suasana lingkungan juga dijaga tetap tenang saat waktu
salat dan kegiatan keagamaan berlangsung.
Saat Hari Raya Idulfitri, warga
dari berbagai agama saling berkunjung untuk bersilaturahmi. Saya melihat banyak
tetangga yang datang ke rumah warga muslim untuk mengucapkan selamat, meskipun
mereka berbeda keyakinan. Hal ini menunjukkan adanya rasa kebersamaan dan
saling menghargai sebagai sesama warga Palapa 7.
Sebaliknya, ketika perayaan Natal
dan ibadah keagamaan umat Kristen berlangsung, warga muslim turut menjaga
ketertiban lingkungan. Beberapa pemuda membantu mengatur parkir kendaraan agar
kegiatan ibadah berjalan lancar. Saya mengamati bahwa kegiatan tersebut
dilakukan dengan sukarela tanpa paksaan, yang menunjukkan adanya kesadaran
bersama akan pentingnya toleransi.
Selain dalam perayaan keagamaan,
toleransi juga terlihat dalam kegiatan kerja bakti lingkungan. Warga Palapa 7
rutin melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan, memperbaiki saluran air,
dan merapikan fasilitas umum. Dalam kegiatan ini, semua warga ikut
berpartisipasi tanpa membedakan latar belakang agama. Saya melihat interaksi
antarwarga berlangsung dengan santai dan penuh rasa kebersamaan.
Namun, saya juga menyadari bahwa
masih ada beberapa tantangan kecil. Beberapa warga cenderung lebih sering
berinteraksi dengan kelompok yang seagama atau sudah saling mengenal sejak
lama. Meskipun tidak menimbulkan konflik, hal ini menunjukkan bahwa toleransi
yang ada masih perlu terus dikembangkan agar hubungan antarwarga menjadi lebih
dekat.
C.
Refleksi
dan Analisis
Menurut refleksi saya, toleransi di
lingkungan Palapa 7 dapat terjaga karena adanya kesadaran bahwa hidup
bertetangga membutuhkan sikap saling menghormati. Warga menyadari bahwa
perbedaan adalah hal yang tidak bisa dihindari, sehingga lebih memilih untuk
menjaga keharmonisan daripada memperbesar perbedaan.
Faktor lain yang mendukung
toleransi adalah adanya nilai kemanusiaan, seperti saling membantu dan peduli
terhadap sesama. Dalam kondisi tertentu, seperti saat ada warga yang mengalami
musibah, seluruh warga turut membantu tanpa melihat perbedaan agama. Hal ini
memperkuat rasa persaudaraan dan kebersamaan.
Selain itu, nilai kebangsaan juga
berperan penting. Semangat persatuan dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika
tercermin dalam sikap warga yang menghargai perbedaan sebagai bagian dari
kehidupan bersama. Warga lebih mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan
kelompok tertentu.
Peran tokoh lingkungan, seperti
ketua RT, juga sangat berpengaruh. Ketua RT di Palapa 7 bersikap adil dan
terbuka dalam mengoordinasikan kegiatan warga. Setiap kegiatan lingkungan
selalu melibatkan seluruh warga tanpa pengecualian, sehingga tidak ada kelompok
yang merasa dikucilkan.
Jika dikaitkan dengan teori
toleransi sosial, apa yang saya amati di Palapa 7 menunjukkan bahwa toleransi
tidak hanya berupa sikap diam atau membiarkan, tetapi juga tindakan nyata
seperti membantu, menjaga ketertiban, dan bekerja sama. Meski demikian, toleransi
masih perlu ditingkatkan melalui komunikasi dan interaksi yang lebih intens
agar hubungan antarwarga menjadi lebih akrab.
D.
Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan saya,
praktik toleransi di lingkungan Palapa 7 telah berjalan dengan cukup baik. Hal
ini terlihat dari sikap saling menghormati dalam perayaan keagamaan, kerja
bakti bersama, serta kepedulian antarwarga dalam kehidupan sehari-hari.
Perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk hidup rukun dan damai.
Pembelajaran yang saya dapatkan
adalah bahwa toleransi harus dijaga dan dipraktikkan secara terus-menerus.
Toleransi bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab
bersama sebagai warga lingkungan. Ke depan, saya berharap warga Palapa 7 dapat
semakin memperkuat rasa kebersamaan dan membuka ruang dialog agar toleransi
tidak hanya menjadi kebiasaan, tetapi juga menjadi nilai yang benar-benar hidup
dalam kehidupan bermasyarakat.
Komentar
Posting Komentar