Langsung ke konten utama

TUGAS TERSTRUKTUR 01 : DIAH RESTI ASTUTI E07

 

MENANAMKAN NILAI PANCASILA DALAM KEHIDUPAN MAHASISWA

 

Diah Resti Astuti

NIM: 43125010204

 

Abstrak

Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman hidup bangsa harus diinternalisasi dalam diri mahasiswa melalui Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Di era digital dan globalisasi, mahasiswa menghadapi tantangan serius seperti krisis identitas, hoaks, dan pengaruh budaya asing. PKn di perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai mata kuliah wajib, tetapi juga sarana strategis untuk membentuk karakter mahasiswa yang demokratis, kritis, toleran, dan berjiwa kebangsaan. Agar efektif, PKn perlu dikembangkan dengan kurikulum relevan, metode kreatif, bahan ajar kontekstual, dosen kompeten, serta dukungan institusi dan regulasi pemerintah. Dengan langkah tersebut, nilai-nilai Pancasila dapat benar-benar dihidupkan dalam sikap dan tindakan mahasiswa, sehingga melahirkan generasi cerdas sekaligus berkarakter kuat.

Kata Kunci: Pancasila, pendidikan kewarganegaraan, karakter, mahasiswa, era digital, globalisasi.

PENDAHULUAN

Bangsa Indonesia dibentuk atas dasar Pancasila sebagai ideologi dan pandangan hidup. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial menjadikan acuan etika dan moral bagi seluruh masyarakat Indonesia. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab cukup besar dalam membentuk generasi muda, khususnya mahasiswa, agar tidak hanya unggul dalam akademis, melainkan sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan.

Di sisi lain, era digital dan arus globalisasi mendorong transformasi pesat kebiasaan mahasiswa dalam mencari informasi, berhubungan sosial, serta menentukan karakter diri. Tantangan berupa penyebaran hoaks, ideologi ekstrem, ketidakpedulian politik, dan krisis identitas kebangsaan memerlukan respon Pendidikan yang efektif. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), dalam konteks mata kuliah pengembangan kepribadian, memegang posisi penting dalam pembentukan karakter berlandaskan Pancasila.

PERMASALAHAN

Beberapa permasalahan yang terbentuk dalam upaya menanamkan nilai Pancasila di kehidupan mahasiswa, yaitu:

  1. Kesenjangan antara teori dan praktik. Banyak mahasiswa mengenal nilai-nilai Pancasila secara abstrak, tapi tidak mudah melaksanakannya dalam perilaku dan tindakan sehari-hari.
  2. Pengaruh era digital dan globalisasi. Sangat mudahnya mengakses informasi dan interaksi melalui media sosial dapat memberi pengaruh negatif yang melemahkan nilai-nilai kebangsaan dan toleransi.
  3.  Metode pembelajaran yang kurang adaptif. Pengajaran dengan pola komunikasi satu arah, kurang simulasi, partisipasi aktif, refleksi nilai, atau penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran nilai.
  4. Keterbatasan dukungan institusional dan sumber daya. Kompetensi dosen dalam pembelajaran karakter yang belum merata, materi ajar yang kurang relevan dengan konteks kehidupan mahasiswa, serta sarana dan prasarana yang masih terbat
  5. Praktik budaya mahasiswa yang terkadang tidak sejalan. Tuntutan akademik, tekanan sosial, globalisasi nilai bisa membuat mahasiswa lebih mengutamakan aspek pragmatis, individualisme, atau mengabaikan kewajiban sosial dan moral.

PEMBAHASAN

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di perguruan tinggi bukan hanya sekadar mata kuliah wajib yang menjadikan syarat kelulusan, namun menjadikan bekal penting untuk mahasiswa supaya paham hak dan kewajiban sebagai warga negara. Melalui mata kuliah PKn, mahasiswa diharapkan tidaK hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, peduli dengan bangsa, dan ikut serta dalam kehidupan demokratis.

Jika ditinjau dari sejarah, Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada masa lalu cenderung bersifat kaku dan lebih menekankan pada aspek doktrin. Namun, setelah era reformasi, PKn mengalami transformasi menjadi lebih terbuka, demokratis, serta relevan dengan kehidupan sehari-hari. Fokus pembelajaran PKn tidak lagi sekadar pada hafalan nilai, melainkan pada upaya bagaimana mahasiswa mampu menginternalisasi dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata. Hal ini tercermin melalui sikap toleransi, kecintaan terhadap tanah air, penghargaan terhadap hak asasi manusia, serta partisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada era digital saat ini, Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dituntut untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman. Proses pembelajaran tidak dapat lagi hanya mengandalkan metode ceramah satu arah, tetapi perlu dikembangkan ke arah pembelajaran yang aktif, partisipatif, dan relevan. Pendekatan yang dapat diterapkan antara lain melalui diskusi, simulasi praktik demokrasi, pelaksanaan proyek sosial, hingga pemanfaatan media sosial dan platform daring sebagai sarana pembelajaran. Dengan cara tersebut, nilai-nilai kebangsaan tidak hanya lebih mudah dipahami, tetapi juga dapat diimplementasikan secara nyata oleh mahasiswa.

Tantangan yang dihadapi memang cukup kompleks, mulai dari penyebaran hoaks, apatisme politik, hingga krisis identitas akibat kuatnya pengaruh budaya global. Namun demikian, PKn justru memiliki peluang besar untuk menjadi wadah pengembangan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan semangat kebangsaan, serta membekali mahasiswa agar mampu berinteraksi dalam konteks global tanpa kehilangan jati diri bangsa. Pada intinya, apabila diajarkan dengan pendekatan yang kreatif, kontekstual, dan sesuai perkembangan zaman, PKn tidak hanya mencetak mahasiswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang berkarakter kuat dan siap memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

KESIMPULAN DAN SARAN

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di perguruan tinggi bukan hanya mata kuliah wajib, tetapi sarana penting untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila ke dalam kepribadian mahasiswa. PKn berperan bukan hanya mencerdaskan, tapi juga membentuk karakter yang bertanggung jawab, toleran, dan demokratis.

Di era digital, strategi pembelajaran harus kreatif, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan mahasiswa agar nilai Pancasila tidak hanya dihafal, tapi benar-benar dipraktikkan. Meski tantangan seperti hoaks dan krisis identitas ada, PKn justru bisa menjadi peluang untuk menumbuhkan sikap kritis sekaligus memperkuat rasa kebangsaan.

Oleh karena itu, diperlukan kurikulum yang relevan, dosen yang kompeten, bahan ajar kontekstual, dukungan kampus, serta regulasi dari pemerintah. Dengan langkah-langkah ini, PKn dapat melahirkan mahasiswa yang bukan hanya pintar, tapi juga berkarakter kuat dan siap berkontribusi bagi bangsa.

DAFTAR PUSTAKA         

Hubi, Z. B., Mulyani, H., Sapriya, & dkk. (2024). Analisis peran pendidikan kewarganegaraan sebagai mata kuliah pengembang kepribadian dan karakter di perguruan tinggi.

Sulistianingsih, S., Ajung, A., Alkani, S., & Kasih, R. (2024). Strategi penguatan karakter demokratis melalui pembelajaran PPKn berbasis proyek.

Amin, Zainul Ittihad. (n.d). Pengantar pendidikan kewarganegaraan.

Paturahman, M. (2017). Reaktualisasi pendidikan kewarganegaraan di perguruan tinggi. 

Somantri, N. (n.d). Manfaat pendidikan kewarganegaraan dalam membentuk karakter dan jati diri bangsa.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS MANDIRI 01: DIAH RESTI ASTUTI E07

  Mata Kuliah:  Pendidikan Kewarganegaraan  Topik Refleksi:  Sikap sebagai Warga Negara dalam Konteks Kampus  Nama Mahasiswa:  Diah Resti Astuti NIM:  43125010204  Tanggal: 19 September 2025 Pemahaman Konsep Jelaskan secara singkat apa yang Anda pahami tentang konsep kewarganegaraan aktif dan bertanggung jawab. Contoh: Apa arti menjadi warga negara yang baik di lingkungan kampus? Jawab: Kewarganegaraan aktif dan bertanggung jawab adalah kesadaran yang tidak hanya memiliki status sebagai warga negara, melainkan berperan nyata dalam kehidupan bersama. Contoh pada saat di lingkungan kampus yaitu tampak dari sikap mahasiswa yang taat aturan, menghargai keberagaman, aktif kegiatan positif, dan menjaga fasilitas kampus. Mahasiswa yang baik juga berani dalam menyampaikan pendapat secaraa santun serta ikut menciptakan suasana belajar yang kondusif. Oleh karena itu, menjadi warga negara yang baik di kampus bukan hanya berprestasi dalam. Pengala...

TUGAS MANDIRI 02 : DIAH RESTI ASTUTI E07

    Studi Pustaka tentang Sistem Pemerintahan Berdasarkan UUD 1945 dan Literatur Ilmiah Diah Resti Astuti E07 PENDAHULUAN Latar Belakang Sistem pemerintahan di Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga kini terus mengalami perubahan. UUD 1945 berfungsi sebagai dasar utama dalam mengatur interaksi antar lembaga negara, distribusi kekuasaan, serta pelaksanaan kedaulatan rakyat. Walaupun secara teori Indonesia menganut sistem presidensial, praktik pemerintahan tetap memperlihatkan unsur parlementer, yang mengakibatkan perdebatan tentang konsistensi pelaksanaannya. Amandemen UUD 1945 antara tahun 1999–2002 menghadirkan perubahan besar bagi sistem pemerintahan, khususnya dengan peningkatan peran DPR, pembatasan periode jabatannya presiden, serta penguatan prinsip checks and balances . Transformasi ini tidak hanya menyesuaikan tata pemerintahan dengan kemajuan politik, tetapi juga mendorong terciptanya mekanisme demokrasi yang lebih transparan. Sebaliknya, penerapan asas demokrasi dan...