Langsung ke konten utama

TUGAS MANDIRI 04: DIAH RESTI ASTUTI E07

 

Judul:

Integrasi Sosial di Lingkungan RT 16: Antara Kebersamaan dan Tantangan

 

Lokasi Observasi:

Gang Palapa 7, Kelurahan Kedoya Selatan, Jakarta Barat

 

Pendahuluan:

Observasi ini saya lakukan di lingkungan tempat tinggal saya, yaitu Gang Palapa 7, Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Kota Jakarta Barat, khususnya di RT 16. Saya memilih lokasi ini karena wilayah tersebut memiliki masyarakat yang cukup beragam dari segi suku, agama, dan usia. Ada warga asli Betawi, pendatang dari Jawa, Sumatera, dan Sulawesi yang hidup berdampingan dalam satu lingkungan. Tujuan observasi ini adalah untuk memahami bagaimana keberagaman itu memengaruhi interaksi sosial dan bagaimana nilai persatuan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan semangat integrasi nasional yang menekankan pentingnya kesatuan dalam perbedaan.

 

Temuan Observasi:

Sekitar satu minggu melakukan pengamatan, saya melihat bahwa warga Gang Palapa 7 menunjukkan bentuk kebersamaan yang kuat melalui kegiatan kerja bakti yang rutin dilakukan oleh para bapak-bapak setiap Minggu pagi. Dalam kegiatan tersebut, mereka bersama-sama membersihkan got, menyapu jalan, dan merapikan taman kecil di depan pos ronda. Walaupun berasal dari latar belakang yang beragam, para bapak-bapak tetap bekerja dengan semangat dan saling membantu. Setelah kegiatan selesai, biasanya mereka beristirahat sambil berbincang santai di pos ronda. Kegiatan sederhana ini bukan hanya membuat lingkungan menjadi bersih dan rapi, tetapi juga mempererat hubungan sosial serta menumbuhkan rasa kebersamaan di antara warga laki-laki di lingkungan tersebut.

Namun, disisi lain, saya juga menemukan fenomena yang bisa menjadi tantangan bagi persatuan di lingkungan itu. Dalam beberapa minggu terakhir, terlihat bahwa partisipasi generasi muda dalam kegiatan warga masih rendah. Banyak anak muda yang lebih memilih menghabiskan waktu di rumah atau bermain gawai daripada ikut kegiatan sosial seperti kerja bakti atau ronda malam. Selain itu, beberapa warga yang sibuk bekerja sering tidak sempat ikut kegiatan bersama. Hal ini menimbulkan jarak antara kelompok usia tua dan muda, serta mengurangi rasa kebersamaan yang dulu terasa lebih kuat.

 

Analisis:

Berdasarkan teori integrasi sosial dan nasional, masyarakat dapat dikatakan terintegrasi apabila antar individu memiliki rasa kebersamaan dan kesediaan untuk bekerja sama demi kepentingan bersama. Dalam konteks Gang Palapa 7, kegiatan kerja bakti menjadi contoh konkret dari praktik integrasi sosial positif. Melalui kegiatan tersebut, nilai-nilai gotong royong, solidaritas, dan kepedulian sosial muncul secara alami. Nilai ini sangat sejalan dengan semangat Pancasila, terutama sila ke-3: Persatuan Indonesia, dan sila ke-5: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kegiatan kerja bakti memperlihatkan bahwa rasa kebersamaan dapat melampaui perbedaan latar belakang sosial maupun budaya. Setiap warga merasa memiliki tanggung jawab terhadap lingkungannya. Proses inilah yang memperkuat kohesi sosial, yaitu ikatan yang membuat warga merasa menjadi bagian dari satu komunitas yang sama.

Namun, menurunnya partisipasi anak muda dan munculnya sikap individualistis menunjukkan bahwa integrasi sosial juga bisa melemah jika tidak dipelihara dengan baik. Akar dari masalah ini bisa berasal dari beberapa faktor. Pertama, perubahan gaya hidup modern yang membuat orang lebih fokus pada urusan pribadi dan digital. Kedua, kurangnya komunikasi lintas generasi, di mana anak muda mungkin merasa kegiatan warga kurang relevan dengan minat mereka. Ketiga, minimnya ruang interaksi sosial yang menarik bagi remaja, sehingga mereka tidak merasa terlibat langsung dalam kehidupan masyarakat. Jika kondisi ini dibiarkan, rasa kebersamaan di lingkungan bisa perlahan memudar.

 

Refleksi Diri:

Dari hasil observasi, saya belajar bahwa menjaga persatuan dalam keberagaman bukan hal yang otomatis terjadi, tetapi harus terus diupayakan. Kegiatan sederhana seperti kerja bakti ternyata memiliki makna sosial yang besar: mempertemukan orang-orang dari berbagai latar belakang untuk bekerja demi tujuan Bersama. Saya juga menyadari bahwa generasi muda, termasuk saya sendiri, memiliki peran penting dalam menjaga semangat gotong royong agar tidak luntur oleh kemajuan teknologi dan gaya hidup individualistis.

Saya pribadi merasa perlu untuk lebih aktif dalam kegiatan social di lingkungan tempat tinggal, meskipun kadang terlihat sederhana. Dengan ikut terlibat, saya bisa membantu menciptakan jembatan antara generasi tua dan muda. Selain itu, saya ingin mendorong teman-teman sebaya untuk melihat bahwa kegiatan warga bukan sesuatu yang membosankan, tetapi justru cara untuk mengenal tetangga dan membangun rasa tanggung jawab sosial sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Kesimpulan dan Rekomendasi:

Dari hasil observasi di Gang Palapa 7, Kelurahan Kedoya Selatan, dapat disimpulkan bahwa kegiatan kerja bakti menjadi bukti nyata semangat gotong royong masih hidup di tengah keberagaman warga. Meskipun hanya para bapak-bapak yang rutin terlibat, kegiatan ini tetap menjadi sarana mempererat hubungan sosial dan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan bersama. Namun, rendahnya partisipasi generasi muda menunjukkan bahwa nilai kebersamaan perlu terus diperkuat agar tidak memudar seiring perubahan gaya hidup.

Sebagai rekomendasi, pengurus RT dapat mengajak warga muda dengan cara lebih komunikatif, misalnya lewat pesan di grup RT atau pendekatan pribadi yang menekankan manfaat sosial dari kegiatan bersama. Selain itu, jadwal kerja bakti bisa dibuat lebih fleksibel atau bergiliran, agar semua lapisan warga merasa punya kesempatan yang sama untuk berkontribusi. Dengan langkah sederhana seperti ini, semangat kebersamaan dan persatuan dapat terus terjaga di lingkungan Gang Palapa 7.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS MANDIRI 01: DIAH RESTI ASTUTI E07

  Mata Kuliah:  Pendidikan Kewarganegaraan  Topik Refleksi:  Sikap sebagai Warga Negara dalam Konteks Kampus  Nama Mahasiswa:  Diah Resti Astuti NIM:  43125010204  Tanggal: 19 September 2025 Pemahaman Konsep Jelaskan secara singkat apa yang Anda pahami tentang konsep kewarganegaraan aktif dan bertanggung jawab. Contoh: Apa arti menjadi warga negara yang baik di lingkungan kampus? Jawab: Kewarganegaraan aktif dan bertanggung jawab adalah kesadaran yang tidak hanya memiliki status sebagai warga negara, melainkan berperan nyata dalam kehidupan bersama. Contoh pada saat di lingkungan kampus yaitu tampak dari sikap mahasiswa yang taat aturan, menghargai keberagaman, aktif kegiatan positif, dan menjaga fasilitas kampus. Mahasiswa yang baik juga berani dalam menyampaikan pendapat secaraa santun serta ikut menciptakan suasana belajar yang kondusif. Oleh karena itu, menjadi warga negara yang baik di kampus bukan hanya berprestasi dalam. Pengala...

TUGAS TERSTRUKTUR 01 : DIAH RESTI ASTUTI E07

  MENANAMKAN NILAI PANCASILA DALAM KEHIDUPAN MAHASISWA   Diah Resti Astuti NIM: 43125010204   Abstrak Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman hidup bangsa harus diinternalisasi dalam diri mahasiswa melalui Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Di era digital dan globalisasi, mahasiswa menghadapi tantangan serius seperti krisis identitas, hoaks, dan pengaruh budaya asing. PKn di perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai mata kuliah wajib, tetapi juga sarana strategis untuk membentuk karakter mahasiswa yang demokratis, kritis, toleran, dan berjiwa kebangsaan. Agar efektif, PKn perlu dikembangkan dengan kurikulum relevan, metode kreatif, bahan ajar kontekstual, dosen kompeten, serta dukungan institusi dan regulasi pemerintah. Dengan langkah tersebut, nilai-nilai Pancasila dapat benar-benar dihidupkan dalam sikap dan tindakan mahasiswa, sehingga melahirkan generasi cerdas sekaligus berkarakter kuat. Kata Kunci: Pancasila, pendidikan kewarganegaraan, karakter...

TUGAS MANDIRI 02 : DIAH RESTI ASTUTI E07

    Studi Pustaka tentang Sistem Pemerintahan Berdasarkan UUD 1945 dan Literatur Ilmiah Diah Resti Astuti E07 PENDAHULUAN Latar Belakang Sistem pemerintahan di Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga kini terus mengalami perubahan. UUD 1945 berfungsi sebagai dasar utama dalam mengatur interaksi antar lembaga negara, distribusi kekuasaan, serta pelaksanaan kedaulatan rakyat. Walaupun secara teori Indonesia menganut sistem presidensial, praktik pemerintahan tetap memperlihatkan unsur parlementer, yang mengakibatkan perdebatan tentang konsistensi pelaksanaannya. Amandemen UUD 1945 antara tahun 1999–2002 menghadirkan perubahan besar bagi sistem pemerintahan, khususnya dengan peningkatan peran DPR, pembatasan periode jabatannya presiden, serta penguatan prinsip checks and balances . Transformasi ini tidak hanya menyesuaikan tata pemerintahan dengan kemajuan politik, tetapi juga mendorong terciptanya mekanisme demokrasi yang lebih transparan. Sebaliknya, penerapan asas demokrasi dan...